Ansor Bersama Banom NU Gelar Harlah NU ke-103 dengan Jalan Sehat, Bazar Murah, dan Pengajian Akbar
Dalam rangka memperingati Hari Lahir Nahdlatul Ulama (Harlah NU) ke-103, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PR NU) Kelurahan Candiroto menyelenggarakan rangkaian kegiatan keagamaan dan sosial yang berlangsung meriah pada Ahad, 25 Januari 2026.
Kegiatan diawali dengan jalan sehat pada Ahad pagi yang diikuti oleh warga Nahdliyin Kelurahan Candiroto dengan penuh antusias. Jalan sehat tersebut secara resmi dilepas melalui prosesi pemotongan pita oleh Ibu Lurah Candiroto, Siti Ariningsih, S.Sos., M.A.P. Peserta jalan sehat menggunakan kupon berhadiah dengan hadiah utama berupa sepeda gunung serta berbagai hadiah menarik lainnya.
Pada siang harinya, panitia menyelenggarakan bazar murah yang menyediakan berbagai kebutuhan pokok dengan harga terjangkau. Kegiatan ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat karena dinilai sangat membantu warga, khususnya dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan pada malam hari setelah salat Isya dengan pengajian akbar yang diikuti oleh warga Nahdliyin Kelurahan Candiroto dan sekitarnya. Acara pengajian turut dihadiri oleh Ibu Carik Candiroto serta Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWC NU). Pada kesempatan tersebut, tausiah disampaikan oleh KH. Imam Salim (Ki Gendeng Karomah) dari Sumberejo, Boja, Kabupaten Kendal, yang menyampaikan pesan-pesan keagamaan, ke-NU-an dan kebangsaan kepada jamaah.
Selain kegiatan utama, panitia juga menyelenggarakan santunan anak yatim, pemberian seragam sekolah, serta pembagian sembako sebagai bentuk kepedulian sosial kepada masyarakat. Seluruh rangkaian kegiatan ini melibatkan berbagai Badan Otonom NU.
Secara keseluruhan, peringatan Harlah NU ke-103 di Kelurahan Candiroto berlangsung semarak dan penuh kebersamaan. Antusiasme masyarakat terlihat sangat tinggi dan jumlah peserta yang hadir mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kegiatan ini menjadi wujud nyata kebersamaan warga Nahdliyin dalam menjaga tradisi, memperkuat ukhuwah, serta menumbuhkan kepedulian sosial di tengah masyarakat.
GP.Ansor & IRMAC Candiroto Gelar Santunan Yatama dalam Rangka Tahun Baru Islam 1447H
Dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1447 Hijriah, GP.Ansor & Ikatan Remaja Islam Masjid Al Muqorrobin Candiroto (IRMAC) Kecamatan kota Kendal menggelar kegiatan santunan yatama. Acara tersebut berlangsung khidmat dan penuh kehangatan di serambi Masjid Al Muqorrobin, Candiroto, yang menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial masyarakat setempat.
Ketua Panitia Pelaksana, Bapak Sukandar, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin dan tradisi yang telah mengakar kuat di tengah masyarakat Candiroto. Beliau berharap kegiatan ini dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan, khususnya dalam hal kepedulian terhadap anak-anak yatim. Menurut beliau, santunan ini bukan sekadar bentuk pemberian, melainkan wujud tanggung jawab sosial dan kepedulian sebagai satu keluarga besar. Anak-anak yatim bukanlah orang lain, melainkan bagian tak terpisahkan dari keluarga kita sendiri. Kehadiran mereka adalah anugerah sekaligus menjadi jalan untuk meraih ridha Allah dan meniti jalan menuju surga-Nya
Dalam acara santunan yatama yang diselenggarakan di kelurahan Candiroto, hadir pula Ibu Lurah Candiroto, Siti Ariningsih, S.Sos., yang turut memberikan apresiasi kepada seluruh warga yang peduli dan berpartisipasi dalam kegiatan mulia ini. Beliau menyampaikan bahwa kepedulian tersebut merupakan wujud nyata kerukunan serta rasa tanggung jawab sosial terhadap sesama, sekaligus menjadi simbol kebersamaan dalam berbagi kebahagiaan dan cinta kasih kepada sesama manusia.
Ziarah Touring GP Ansor Candiroto ke Dieng
GP Ansor Candiroto menggelar kegiatan ziarah dan touring ke kawasan Dieng sebagai bagian dari kegiatan spiritual, kebersamaan, serta mempererat tali silaturahmi antar anggota.
Kegiatan ini diikuti oleh seluruh pengurus dan anggota dengan penuh semangat. Selain menjadi sarana rekreasi, kegiatan tersebut juga bertujuan meningkatkan kekompakan organisasi serta menumbuhkan semangat perjuangan dalam berkhidmat kepada masyarakat.
Selama perjalanan, peserta mengunjungi beberapa makam ulama dan tokoh agama sebagai bentuk penghormatan kepada para pendahulu yang telah berjasa dalam menyebarkan ajaran Islam di Indonesia.
Ketua GP Ansor Candiroto berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara rutin karena memberikan manfaat besar bagi anggota, baik dalam aspek spiritual, sosial, maupun organisasi.
Reorganisasi sebagai Estafet Kepemimpinan dan Perjuangan
11 Januari 2026 di madrasah Futuhiyah kelurahan Candiroto menjadi momentum bersejarah bagi GP Ansor Ranting Candiroto. Pada hari tersebut dilaksanakan pergantian kepengurusan sebagai bentuk estafet perjuangan dalam melanjutkan cita-cita para ulama dan masyayikh, yaitu menjaga kemurnian akidah Ahlussunnah wal Jamaah, meneguhkan nilai-nilai Islam yang moderat (tawassuth), seimbang (tawazun), adil (i'tidal), dan toleran (tasamuh), serta menghidupkan semangat ukhuwah Islamiyah, ukhuwah Wathaniyah, dan ukhuwah Basyariyah demi kemaslahatan umat, bangsa, dan negara.
Dalam proses tersebut, Sahabat Yusuf Setia Budi resmi terpilih sebagai Ketua Gerakan Pemuda Ansor Ranting Candiroto, menggantikan Kang Sahid. Amanah ini merupakan kelanjutan dari perjuangan organisasi untuk meneruskan program-program yang telah dirintis, sekaligus mengembangkan GP Ansor agar semakin maju, solid, dan bermanfaat bagi masyarakat.
Semoga di bawah kepemimpinan Sahabat Yusuf Setia Budi, GP Ansor Ranting Candiroto semakin berkembang, semakin berjaya, serta mampu melahirkan kader-kader yang berakhlakul karimah, berjiwa nasionalis, dan istiqamah dalam mengawal ajaran Ahlussunnah wal Jamaah an-Nahdliyah. Semoga panji-panji Nahdlatul Ulama senantiasa berkibar, membawa rahmat, persatuan, dan keberkahan hingga ke seluruh penjuru dunia.
GP Ansor Candiroto Gelar Mujahadah Perdana, Perkuat Ukhuwah dan Syiar Aswaja di Tengah Masyarakat
Candiroto – Pimpinan Ranting Gerakan Pemuda (GP) Ansor Candiroto kembali menunjukkan komitmennya dalam memperkuat syiar Islam Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja) melalui kegiatan keagamaan yang melibatkan masyarakat. Pada bulan Mei 2026, GP Ansor Candiroto menyelenggarakan agenda perdana berupa Mujahadah dan Sarasehan yang bertempat di Musholla Miftahul Hidayah RT 10 RW 04, Kelurahan Candiroto.
Kegiatan tersebut merupakan hasil musyawarah dan kesepakatan seluruh anggota sebagai langkah awal dalam membangun tradisi keagamaan yang berkelanjutan di lingkungan masyarakat. Acara diawali dengan pelaksanaan salat berjamaah yang diimami oleh Kiai selaku Imam mushola Miftahul Hidayah, kemudian dilanjutkan dengan pembacaan mujahadah, doa bersama, serta sarasehan yang membahas pentingnya peran pemuda dalam menjaga nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan ajaran Ahlussunnah wal Jamaah An-Nahdliyah.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut sahabat-sahabat Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) Rijalul Ansor dari PAC Kendal yang memberikan dukungan sekaligus menambah semangat kebersamaan antarkader Ansor. Kehadiran para sahabat dari berbagai wilayah menciptakan suasana yang khusyuk, hangat, dan penuh kekeluargaan. Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan tertib dan mendapat sambutan positif dari masyarakat sekitar.
Ketua GP Ansor Ranting Candiroto, Yusuf Setiya Budi, menyampaikan bahwa kegiatan mujahadah ini bukan sekadar rutinitas keagamaan, tetapi juga menjadi sarana mempererat ukhuwah Islamiyah serta mengajak para pemuda untuk aktif dalam kegiatan yang membawa manfaat bagi agama, masyarakat, dan bangsa. Menurutnya, GP Ansor akan terus hadir sebagai organisasi yang merangkul seluruh elemen masyarakat tanpa membedakan latar belakang, dengan mengedepankan semangat persaudaraan, persatuan, dan pengabdian.
Ke depan, GP Ansor Candiroto berkomitmen menjadikan kegiatan mujahadah sebagai agenda rutin organisasi. Setelah pelaksanaan rutin Majelis Dzikir dan Shalawat (MDS) setiap dua kali selapanan, agenda ketiga akan diisi dengan mujahadah yang dilaksanakan secara bergilir di mushola-mushola yang ada di Kelurahan Candiroto. Melalui program ini diharapkan syiar Islam Ahlussunnah wal Jamaah semakin berkembang, hubungan antara Ansor dan masyarakat semakin erat, serta semakin banyak generasi muda yang bergabung dan turut berkhidmat bersama GP Ansor dalam menjaga nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemasyarakatan.
Kolaborasi GP Ansor dan Karang Taruna sebagai Wujud Pengabdian kepada Masyarakat
Kolaborasi antara GP Ansor Ranting Candiroto dan Karang Taruna Kelurahan Candiroto menjadi bukti nyata bahwa semangat pengabdian kepada masyarakat dapat diwujudkan melalui sinergi lintas organisasi. Kerja sama yang terjalin bukan berarti Karang Taruna kekurangan sumber daya manusia atau anggota, melainkan karena banyak pemuda yang secara aktif mengabdikan diri di kedua organisasi tersebut.
Pada hakikatnya, pemuda GP Ansor juga merupakan bagian dari Karang Taruna, begitu pula sebaliknya. Mereka adalah orang-orang yang sama, yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat dan pembangunan desa. Perbedaannya hanya terletak pada atribut atau seragam yang dikenakan sesuai dengan organisasi dan kegiatan yang sedang dijalankan. Ketika mengenakan seragam GP Ansor, mereka menjalankan tugas-tugas organisasi keagamaan. Sementara saat mengenakan atribut Karang Taruna, mereka berperan aktif sebagai mitra pemerintah dalam melaksanakan berbagai program kemasyarakatan.
Sinergi ini menunjukkan bahwa pengabdian seorang pemuda tidak perlu dibatasi oleh identitas organisasi. Justru melalui kolaborasi, potensi yang dimiliki dapat disatukan untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Kolaborasi tersebut juga mendapat apresiasi dan dukungan penuh dari Lurah Candiroto, Ibu Siti Ariningsih, S.Sos., M.AP. Menurut beliau, sinergi antara GP Ansor dan Karang Taruna merupakan langkah yang sangat positif dalam membangun persatuan dan memperkuat partisipasi generasi muda di tengah masyarakat. Kehadiran dua organisasi yang berjalan beriringan akan menciptakan kekuatan yang saling melengkapi dalam mendukung pembangunan di tingkat kelurahan.
Beliau juga menegaskan bahwa peran pemuda tidak hanya terbatas pada kegiatan keagamaan, tetapi juga harus mampu berpartisipasi aktif dalam mendukung program-program pemerintah serta berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan. Dengan demikian, pembangunan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan menjadi gerakan bersama yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, khususnya generasi muda.
Generasi muda merupakan estafet kepemimpinan dan harapan masa depan bangsa. Oleh karena itu, semangat berkarya, mengabdi, dan berkolaborasi harus terus ditumbuhkan. Apabila para pemuda bersikap pasif dan enggan bergerak, maka laju pembangunan serta berbagai program pemerintah, khususnya di tingkat desa dan kelurahan, akan sulit berkembang secara optimal. Sebaliknya, ketika pemuda mampu bersatu, saling mendukung, dan bergotong royong tanpa memandang latar belakang organisasi, akan lahir kekuatan besar yang mampu menghadirkan perubahan positif bagi masyarakat.
Semangat kebersamaan inilah yang menjadi landasan kolaborasi GP Ansor dan Karang Taruna Kelurahan Candiroto. Dengan mengedepankan persatuan, kepedulian, dan pengabdian, keduanya berkomitmen untuk terus menjadi mitra strategis pemerintah dalam mewujudkan masyarakat yang religius, harmonis, maju, dan sejahtera.
"Sebagaimana semangat para ulama dalam membangun peradaban melalui persatuan, kolaborasi GP Ansor dan Karang Taruna menjadi ikhtiar bersama untuk menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Sebab, pemuda yang bersatu akan menjadi kekuatan besar dalam menjaga nilai-nilai keagamaan sekaligus menggerakkan pembangunan."
GP. Ansor Ranting Candiroto Hadiri Konferancab GP. Ansor Kendal Wujud Solidaritas dan Komitmen Organisasi.
Dalam rangka pelaksanaan Konferensi Anak Cabang (Konferancab) Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Kendal, GP. Ansor Ranting Candiroto hadir dan turut aktif berpartisipasi sebagai bentuk solidaritas dan tanggung jawab organisasi. Kegiatan ini dilaksanakan pada hari Ahad, 13 Oktober 2024, dan menjadi bagian penting dalam memperkuat koordinasi serta arah gerakan antara struktur ranting dan pimpinan anak cabang.
Kehadiran GP. Ansor Ranting Candiroto bukan semata bentuk formalitas, melainkan wujud nyata dari kesadaran kolektif atas pentingnya peran setiap level organisasi dalam membangun kekuatan dan soliditas kader. Dalam suasana penuh semangat dan kekeluargaan, para delegasi membawa amanah dari akar rumput organisasi untuk mendukung penuh jalannya konferensi.
Adapun delegasi dari Ranting Candiroto yang hadir dalam Konferancab tersebut terdiri dari beberapa unsur penting. Kyai Muhyidin mewakili Ketua Ranting GP. Ansor Candiroto yang berhalangan hadir karena menjalankan tugas lain yang tidak dapat digantikan. Kehadiran beliau membawa semangat dan pesan dukungan dari jajaran pengurus ranting kepada struktur PAC.
Saeful Anwar, selaku sekretaris ranting, turut hadir dalam rapat pleno dan pemilihan ketua. Ia memegang hak suara dalam proses tersebut dan menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Keikutsertaan ini menunjukkan betapa pentingnya proses demokrasi dalam menentukan arah dan kepemimpinan organisasi di tingkat anak cabang.
Tidak hanya dari unsur pengurus, GP. Ansor Ranting Candiroto juga mengikutsertakan perwakilan dari Rijalul Ansor, yaitu Kang Miftah Kamal mewakili sahabat Yusuf Setia Budi. Kehadiran beliau merupakan bentuk penguatan spiritualitas kader serta representasi dari bidang keagamaan yang menjadi pilar penting dalam gerakan Ansor.
Dalam sidang pemilihan, terpilihlah sahabat Sugiyanto sebagai Ketua Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP. Ansor Kendal yang baru. Kemenangan ini disambut dengan suka cita oleh seluruh peserta konferensi, termasuk delegasi dari Candiroto. Mereka menyampaikan ucapan selamat dan harapan besar agar kepemimpinan baru ini mampu membawa GP. Ansor Kendal menjadi lebih maju, progresif, dan tetap menjaga marwah perjuangan Nahdlatul Ulama.
Dengan suksesnya seluruh rangkaian kegiatan Konferancab, GP. Ansor Ranting Candiroto merasa bangga dapat mengambil peran aktif dalam agenda penting ini. Semangat kolaborasi, loyalitas, dan tanggung jawab yang ditunjukkan menjadi modal utama dalam menjaga kesinambungan perjuangan organisasi untuk masa depan umat dan bangsa.
Ketua PR GP Ansor Candiroto Yusuf Setiya Budi Tegaskan: "Kita Menghargai Perbedaan, Bukan Penyimpangan!"
Pada pelaksanaan MDS yang berlangsung pada 14 Juni 2026 di kediaman Sahabat Saeful, Ketua PR GP Ansor Kelurahan Candiroto, Sahabat Yusup, dalam sambutannya menyampaikan sosialisasi mengenai maraknya pemberitaan tentang berbagai bentuk penyimpangan perilaku sosial dan seksual yang belakangan ramai diperbincangkan di masyarakat, yaitu kasus Boti.
Dalam penyampaiannya, Sahabat Yusup menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak dapat dianggap sebagai hal yang sepele. Menurutnya, tindakan tersebut bukan hanya bertentangan dengan norma sosial dan ketentuan hukum, tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai agama yang diyakini oleh warga Ansor. Ia juga mengingatkan para kader agar senantiasa menjaga diri, memperkuat keimanan, serta bersama-sama menjaga lingkungan agar terhindar dari berbagai bentuk perilaku yang dinilai menyimpang.
"Kita jangan sampai terjerumus dalam penyimpangan tersebut. Kisah kaum Nabi Luth hendaknya menjadi pelajaran bagi kita bahwa siksa Allah itu nyata, Selain itu, penyimpangan tersebut juga menjadi salah satu penularan penyakit seksual yaitu tidak berfungsinya otot anus sehingga banyak dari mereka mengalami hal-hal yang diluar normalnya manusia, setiap manusia harus menjaga diri dan tetap berada di jalan yang diridai Allah SWT," ujar Sahabat Yusup.
Selain memberikan penguatan dari sisi keagamaan, ia juga mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan reproduksi dan menghindari perilaku seksual yang berisiko terhadap penularan berbagai penyakit menular seksual. Menurutnya, pencegahan harus dimulai dari pembinaan moral, penguatan nilai-nilai keagamaan, serta kepedulian antaranggota untuk saling mengingatkan dalam kebaikan.
Menutup sambutannya, Ketua PR GP Ansor Kelurahan Candiroto menegaskan komitmen organisasi dalam menjaga marwah dan nilai-nilai yang dianut. Ia menyampaikan bahwa apabila terdapat anggota yang melakukan tindakan yang bertentangan dengan aturan organisasi maupun nilai-nilai yang menjadi pedoman Ansor, maka organisasi akan mengambil langkah pembinaan dan penegakan disiplin sesuai mekanisme yang berlaku.
Ia juga mengajak seluruh kader untuk terus memperkuat ukhuwah, menjaga akhlak, serta menjadi teladan di tengah masyarakat dengan menjunjung tinggi nilai-nilai keislaman, kebangsaan, dan kemanusiaan.
Reorganisasi IPNU-IPPNU Ranting Candiroto Berlangsung Meriah, Rekan Hilal dan Rekanita Maryam Resmi Pimpin Periode 2026–2028
Candiroto – Regenerasi kepemimpinan merupakan bagian penting dalam menjaga keberlangsungan organisasi. Semangat tersebut tampak dalam kegiatan Reorganisasi IPNU-IPPNU Ranting Candiroto yang diselenggarakan pada Sabtu, 11 Juli 2026, bertempat di Mushola Baiturrohim, Candiroto. Kegiatan yang dipandu oleh jajaran IPNU-IPPNU PAC Kendal ini berlangsung dengan tertib, penuh kekeluargaan, serta diikuti dengan antusias oleh seluruh peserta yang hadir.
Acara diawali dengan pembukaan, tahlil, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Yalal Wathan, Mars IPNU, Mars IPPNU, dilanjutkan dengan sambutan-sambutan, do'a serta proses reorganisasi sebagai bentuk regenerasi kepemimpinan di tubuh IPNU dan IPPNU Ranting Candiroto. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung lancar dengan suasana yang penuh semangat dan kebersamaan.
Melalui proses pemilihan yang demokratis, forum akhirnya menetapkan Rekan Hilal sebagai Ketua IPNU Ranting Candiroto dan Rekanita Maryam sebagai Ketua IPPNU Ranting Candiroto untuk Masa Khidmat 2026–2028. Terpilihnya kedua kader muda tersebut disambut tepuk tangan meriah dari seluruh peserta sebagai bentuk apresiasi sekaligus harapan agar mampu membawa organisasi menjadi semakin aktif, berkembang, dan memberikan manfaat bagi pelajar Nahdlatul Ulama di Kelurahan Candiroto.
Momentum reorganisasi juga menjadi ajang penghormatan kepada kepengurusan sebelumnya yang telah mengabdikan tenaga, pikiran, dan waktunya selama menjalankan amanah organisasi. Para peserta memberikan apresiasi kepada seluruh pengurus lama atas dedikasi, loyalitas, dan perjuangan yang telah dilakukan dalam membangun serta menghidupkan kegiatan IPNU dan IPPNU Ranting Candiroto. Semangat baru yang lahir dari reorganisasi ini diharapkan menjadi awal yang baik untuk melanjutkan estafet perjuangan organisasi.
Dalam sambutannya, Ketua IPNU Ranting Candiroto periode sebelumnya, Rekan Miftah Kamal, menyampaikan pesan agar kepengurusan baru tidak berhenti pada program-program yang telah berjalan, tetapi mampu menghadirkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan zaman. Beliau menuturkan bahwa setiap periode memiliki ciri khas dan kreativitas masing-masing.
"Kalau dulu pengurus memiliki agenda membersihkan makam sebagai bentuk bakti kepada masyarakat, maka pengurus yang baru bisa menghadirkan kegiatan lain yang tidak kalah bermanfaat, misalnya kerja bakti membersihkan mushola atau fasilitas ibadah. Yang terpenting adalah semangat pengabdian itu tetap hidup dan terus berkembang,"
Beliau juga berharap kepengurusan yang baru mampu menjaga kekompakan, mempererat tali persaudaraan antaranggota, serta terus menghadirkan kegiatan yang bermanfaat bagi pelajar maupun masyarakat sekitar.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut jajaran Badan Otonom (Banom) Nahdlatul Ulama, di antaranya GP Ansor, Muslimat NU, dan Fatayat NU Ranting Candiroto, sebagai bentuk dukungan terhadap proses regenerasi kepemimpinan di lingkungan Nahdlatul Ulama. Dalam kesempatan tersebut, Ketua GP Ansor Ranting Candiroto, Sahabat Yusuf, yang menyampaikan pentingnya kerja sama dalam menjalankan roda organisasi. Menurut beliau, organisasi tidak dapat berjalan hanya mengandalkan satu atau dua orang saja, melainkan membutuhkan peran aktif seluruh pengurus sesuai dengan bidang dan tanggung jawab masing-masing.
"Organisasi tidak akan berjalan dengan baik apabila seluruh tanggung jawab hanya dibebankan kepada ketua. Setiap pengurus memiliki amanah, tugas, dan perannya masing-masing yang harus dijalankan dengan penuh tanggung jawab. Ketika seluruh pengurus bergerak bersama sesuai bidangnya, insyaallah organisasi akan semakin hidup, solid, dan mampu memberikan manfaat yang lebih besar bagi masyarakat."
Nasihat tersebut mendapat sambutan positif dari seluruh peserta sebagai bekal dalam menjalankan amanah kepengurusan yang baru selama dua tahun ke depan.
Kegiatan reorganisasi tahun ini juga terasa semakin istimewa dengan kehadiran mahasiswa dan mahasiswi Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Semarang (USM) yang sedang melaksanakan pengabdian di Kelurahan Candiroto. Mereka turut menyaksikan jalannya proses reorganisasi sekaligus berpartisipasi memeriahkan acara. Kehadiran mahasiswa KKN diharapkan dapat mempererat sinergi antara perguruan tinggi dan organisasi kepemudaan dalam mendukung pembangunan karakter generasi muda.
Seluruh rangkaian acara berlangsung dengan lancar hingga selesai. Di akhir kegiatan, seluruh peserta melakukan sesi foto bersama sebagai simbol kebersamaan, regenerasi, dan komitmen untuk terus menjaga eksistensi IPNU dan IPPNU Ranting Candiroto sebagai wadah pembinaan generasi muda Nahdlatul Ulama.
Keluarga Besar IPNU-IPPNU Ranting Candiroto mengucapkan selamat dan sukses kepada Rekan Hilal dan Rekanita Maryam atas amanah yang telah dipercayakan sebagai Ketua IPNU dan Ketua IPPNU Masa Khidmat 2026–2028.
Semoga kepemimpinan yang baru mampu melanjutkan perjuangan para pendahulu, menghadirkan ide-ide yang kreatif dan inovatif, memperkuat kaderisasi, mengajak lebih banyak rekan dan rekanita untuk aktif berorganisasi, serta membawa IPNU dan IPPNU Ranting Candiroto menjadi organisasi yang semakin maju, solid, mandiri, dan senantiasa memberikan manfaat bagi agama, masyarakat, bangsa, dan Nahdlatul Ulama.
"Selamat mengemban amanah. Teruslah belajar, berjuang, dan bertakwa demi terwujudnya generasi muda Nahdlatul Ulama yang berkualitas, berintegritas, dan siap mengabdi untuk umat."
Pakar Sains bertanya, Santri menjawab
Video ini hanyalah sebagian kecil contoh peristiwa yang dikemas dalam bentuk unggahan. Melalui contoh tersebut dapat dipahami bahwa dalil naqli saja terkadang belum cukup untuk menjelaskan konsep ketuhanan kepada orang-orang yang hanya mengandalkan logika empiris dan pengetahuan yang bersifat kasat mata. Bahkan, apabila tidak dibarengi dengan pemahaman ilmu akidah yang mendalam, seseorang bisa saja mengalami keraguan dalam beriman ketika berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan filosofis semacam itu.
Realitanya, penulis sendiri pernah mengalami peristiwa tersebut. Suatu ketika, penulis bertatap muka langsung dengan seorang dosen dalam sebuah forum perkuliahan di salah satu universitas Islam swasta di Jakarta. Selain menjadi tenaga pengajar, beliau juga mengaku sedang menempuh pendidikan pascasarjana di salah satu perguruan tinggi Islam negeri di Jakarta.
Dalam sebuah kesempatan, beliau berbagi kegelisahan kepada para mahasiswa mengenai pertanyaan yang selama ini membebani pikirannya. Menurut beliau, dari berbagai jawaban yang pernah didengar, belum ada yang benar-benar mampu menenangkan hatinya.
Beliau bertanya:
"Jika surga dan neraka bersifat kekal, lalu apa bedanya dengan kekalnya Allah SWT? Jika sama-sama disebut kekal, apakah berarti sifatnya sama? Jika sifatnya sama, apakah zatnya juga sama? Lalu letak perbedaannya di mana?".
Mendengar pertanyaan tersebut, penulis hanya mencoba membantu meringankan kegelisahan beliau dengan menyampaikan penjelasan sederhana yang pernah penulis pelajari dari Kitab Risalah Awal, pada pembahasan wajib bagi Allah bersifat Baqa', sebagaimana pernah dijelaskan oleh Ma'arif di kelas lokal Santri kalong.
Inti penjelasan tersebut adalah bahwa kekalnya Allah (Baqa') merupakan sifat wajib yang melekat pada Zat-Nya tanpa permulaan dan tanpa sebab, sedangkan kekalnya surga dan neraka bukanlah kekekalan yang berdiri sendiri, melainkan kekekalan yang diciptakan, dikehendaki, dan dipelihara oleh Allah SWT. Dengan demikian, meskipun sama-sama menggunakan istilah kekal, hakikat kekekalan Allah dan kekekalan makhluk sama sekali tidak dapat disamakan.
Setelah mendengar penjelasan tersebut, beliau terdiam sejenak, merenung sambil mengangguk-anggukkan kepala. Dengan nada pelan disertai senyuman, beliau berkata,
"Ya... ya... ya... bisa diterima dan masuk akal."
Peristiwa ini semakin menguatkan keyakinan penulis bahwa mempelajari ilmu akidah dari para ulama Ahlussunnah wal Jamaah sangatlah penting. Ilmu tersebut bukan hanya untuk mengetahui dalil, tetapi juga agar mampu memahami hakikat sifat-sifat Allah dengan benar, sehingga tidak mudah goyah ketika menghadapi berbagai syubhat dan pertanyaan yang tampak rumit.
Kisah Isyarat Syaikhona Kholil Bangkalan kepada Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari untuk Menemui Kiai Sa'id bin Armia Tegal jikalau hendak bertemu Nabi Hidir 'alaihissalam
Melanjutkan postingan sebelumnya tentang Karomah Syeikh Sa'id bin Armia: Berguru kepada Nabi Khidir 'Alaihissalam dan Mendapat Bimbingan Rasulullah ﷺ, agar lebih mudah dicari dan dipahami.
Di kalangan sebagian ulama dan santri, beredar sebuah kisah penuh hikmah mengenai isyarat yang diberikan oleh Syaikhona Kholil Bangkalan kepada murid kesayangannya, Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari, agar menemui Kiai Sa'id bin Armia di Tegal.
Syaikhona Kholil Bangkalan dikenal sebagai seorang ulama besar yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah. Beliau adalah guru dari Hadratussyaikh KH. Hasyim Asy'ari, pendiri Nahdlatul Ulama, yang juga diyakini oleh banyak ulama sebagai seorang wali pada akhir hayat beliau.
Dikisahkan, pada masa mudanya Mbah Hasyim pernah memperoleh karunia berjumpa dengan Nabi Khidir 'alaihissalam. Namun, setelah beberapa waktu, perjumpaan tersebut tidak lagi beliau alami.
Karena kerinduan untuk kembali memperoleh bimbingan tersebut, Mbah Hasyim berulang kali memohon petunjuk kepada gurunya, Syaikhona Kholil Bangkalan. Hingga akhirnya, beliau memberikan sebuah isyarat:
"Jika engkau benar-benar ingin dimudahkan berjumpa dengan Nabi Khidir, pergilah ke Tegal, ke pondok Kiai Ubaidah. Carilah seorang anak kecil, putra Kiai Armia, bernama Sa'id. Mintalah kepada Sa'id bin Armia."
Perlu diketahui, usia Mbah Hasyim dan Kiai Sa'id bin Armia terpaut sekitar 25 tahun, sehingga secara usia layaknya seorang ayah dan anak.
Berpegang pada petunjuk tersebut, Mbah Hasyim berangkat menuju Tegal untuk menemui sahabat sekaligus guru tauhidnya, Kiai Ubaidah. Namun tujuan utama beliau adalah mencari seorang anak kecil bernama Sa'id bin Armia.
Sesampainya di pondok, beliau melihat seorang anak kecil sedang duduk di sudut musholla. Menurut kisah yang diwariskan, anak kecil itu adalah Kiai Sa'id bin Armia, yang saat itu sedang memperoleh bimbingan langsung dari Nabi Khidir 'alaihissalam.
Sejak perjumpaan itulah, atas izin Allah, Mbah Hasyim kembali dimudahkan untuk berjumpa dengan Nabi Khidir 'alaihissalam.
Dalam riwayat yang sama juga disebutkan bahwa Kiai Sa'id bin Armia telah mendapatkan bimbingan Nabi Khidir sejak usia sekitar tujuh tahun. Bahkan, dengan izin Allah, beliau juga memperoleh limpahan keberkahan dan bimbingan ruhani dari Rasulullah ﷺ.
Wallāhu a'lam bish-shawāb.
Festival Mancing “Keep Fishing” Meriahkan Kali Reyeng Candiroto, Jalin Kerukunan dan Peduli Lingkungan
Kendal, 4 Oktober 2026 — Suasana Kali Reyeng yang berada di wilayah RT 13 dan RT 8 Kelurahan Candiroto, Kabupaten Kendal, tampak berbeda pada Ahad (4/10/2026). Sejak pagi, kawasan tersebut dipadati masyarakat yang datang untuk mengikuti Festival Mancing “Keep Fishing”, sebuah kegiatan yang digelar oleh GP Ansor bersama Pemuda Karang Taruna Kelurahan Candiroto.
Kegiatan yang berlangsung mulai pukul 07.30 hingga 16.00 WIB itu mendapat sambutan antusias dari masyarakat. Pesertanya tidak hanya berasal dari kalangan dewasa, tetapi juga anak-anak, remaja, hingga orang tua. Bahkan, ada salahsatu warga Tionghoa yang turut tertarik dan ikut memeriahkan kegiatan setelah melihat ramainya masyarakat yang berdatangan ke Kali Reyeng.
Kemeriahan semakin terasa dengan semangatnya Pemuda RT.13 Kristal Jaya serta Ardela RT. 8, yang turut berbaur dan meramaikan festival tersebut. Masyarakat terlihat menikmati suasana santai sambil memancing, bercengkerama, dan bersosialisasi bersama warga lainnya.
Persiapan Dilakukan Bersama-sama
Kesuksesan kegiatan tersebut tidak terlepas dari persiapan dan kerja sama berbagai pihak. Ahmad Fauzi selaku Ketua RT 13 bersama Ketua Karang Taruna, Miftach Kamal, turut terlibat langsung dalam mempersiapkan berbagai sarana dan prasarana yang dibutuhkan sejak dua hari sebelum pelaksanaan.
Persiapan dilakukan secara gotong royong, mulai dari penataan lokasi, mempersiapkan area pemancingan, hingga berbagai kebutuhan teknis lainnya agar kegiatan dapat berjalan dengan tertib dan nyaman bagi para peserta.
Di sisi lain, Ketua GP Ansor Yusuf Setiya Budi, bersama Ketua Rijalul Ansor, David Awaluddin serta jajaran pengurus dan anggota juga telah mempersiapkan berbagai kebutuhan festival. Seluruh persiapan dilakukan dengan penuh kebersamaan dan semangat gotong royong.
Ketua GP Ansor, Yusuf Setiya Budi, menuturkan bahwa Festival Mancing “Keep Fishing” sengaja dibuat sebagai kegiatan yang terbuka untuk umum. Selain menjadi hiburan bagi masyarakat, kegiatan tersebut diharapkan dapat menjadi sarana mempererat tali silaturahmi dan membangun kerukunan antarwarga.
“Festival mancing ini terbuka untuk umum. Panitia menyiapkan lebih dari satu kwintal ikan lele yang kemudian disebar di Kali Reyeng. Ikan hasil pancingan juga boleh dibawa pulang oleh peserta,” tutur Yusuf.
Menariknya, panitia juga menyediakan sejumlah ikan lele yang telah diberi tanda atau pita khusus. Peserta yang berhasil mendapatkan ikan berpita tersebut berhak memperoleh hadiah uang tunai sebesar Rp50.000.
Untuk mengikuti festival, peserta cukup membayar biaya pendaftaran sebesar Rp20.000. Dengan biaya tersebut, peserta dapat mengikuti kegiatan memancing selama waktu yang telah ditentukan dan berkesempatan membawa pulang ikan hasil pancingan sekaligus mendapatkan hadiah apabila memperoleh ikan berpita.
Antusiasme masyarakat terlihat sejak pagi. Para peserta tampak serius menunggu umpan disambar ikan, sementara anak-anak dan remaja ikut menikmati suasana di sekitar sungai. Canda, tawa, dan interaksi antarwarga membuat kawasan Kali Reyeng menjadi semakin ramai dan semarak.
Lebih dari sekadar perlombaan memancing, kegiatan “Keep Fishing” juga menjadi momentum untuk mempererat persaudaraan di tengah masyarakat. Warga dari berbagai usia dan latar belakang dapat berkumpul, berinteraksi, serta menikmati hiburan sederhana di lingkungan mereka sendiri.
Panitia juga mengajak seluruh peserta untuk bersama-sama menjaga kebersihan dan kelestarian Kali Reyeng. Peserta diimbau tidak membuang sampah sembarangan, terutama plastik bekas makanan, minuman, maupun perlengkapan memancing ke dalam sungai.
“Kami berharap setelah kegiatan ini masyarakat semakin peduli terhadap sungai. Sungai bukan hanya tempat untuk memancing, tetapi juga bagian dari lingkungan yang harus kita jaga bersama. Jangan sampai setelah acara selesai justru meninggalkan sampah,” tambah Yusuf.
Melalui Festival Mancing “Keep Fishing”, GP Ansor dan Pemuda Karang Taruna berharap kegiatan semacam ini dapat terus dikembangkan sebagai agenda positif yang mampu menghidupkan kebersamaan, memperkuat kerukunan antarwarga, sekaligus menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan. Semangat kebersamaan yang terlihat di Kali Reyeng menjadi bukti bahwa kegiatan sederhana dapat menjadi ruang untuk mempererat persaudaraan. Memancing bersama, menjaga sungai bersama, dan membangun kerukunan bersama.








